Segelintir Bentuk Sesungguhnya Manchester City Ala Pep Guardiola

Entah apa yang ada di benak seorang Pep Guardiola. Kemenangan telah 5-0 menghadapi Liverpool Sabtu lalu masih ditanggapi dengan nada sinis pada saat konferensi pers berlangsung usai pertandingan. Pep merasa bahwa City bermain dibawah tekanan sampai akhirnya Sadio Mane diberikan kartu merah akibat tanpa sengaja menendang wajah Ederson saat tengah mengejar bola umpan di depan kotak penalti City.

“Kami bermain tidak lepas dan terus tertekan oleh pergerakan para pemain Liverpool meskipun kami berhasil unggul sebelum insiden Mane dan Ederson terjadi,” ujar Pep. Meski sudah unggul 1-0 sebelum Mane dikeluarkan dari lapangan, Liverpool nampak sangat berbahaya dengan kecepatan dan akselerasi trio Mane, Salah, Firmino. Bahkan jika kita lihat, Nicolas Otamendi dan John Stones adalah 2 pemain yang lebih mungkin menerima kartu merah akibat kesulitan mereka menjaga pergerakan Mane serta Salah di daerah pinggir lapangan.

Hanya saja, meski banyak yang meragukan kartu merah pantas diberikan kepada Mane, jelas keputusannya untuk mengangkat kaki terlalu tinggi bukanlah suatu nasib buruk melainkan lebih kepada sebuah pengambilan keputusan yang buruk. Kredit juga pantas diberikan kepada Ederson yang tanpa ragu maju untuk menghalau bola meskipun Mane mengejar bola dengan kecepatan tinggi. Disini kita bisa melihat, keputusan Pep untuk memilih Ederson dibandingkan Bravo membuahkan hasil. Keputusan baik oleh Pep, keberanian yang berbuah baik dari Ederson, serta diikuti oleh buruknya keputusan Mane.

Dengan hanya bermain melawan 10 orang, City arahan Pep Guardiola menunjukkan bagaimana berbahayanya mereka andai bisa bermain seperti kemarin. Kedua pemain bertahan sayap City yang dihuni Kyle Walker dan Benjamin Mendy berhasil menguasai sisi pinggir lapangan hingga memudahkan pemain menyerang sayap City seperti Silva, De Bruyne, dan Leroy Sane untuk masuk ke dalam dan melepaskan umpan serta tembakan berbahaya bagi Liverpool. Nama yang terakhir disebut bahkan hanya bermain di menit ke 58 namun berhasil mencetak 2 gol indah melalui 22 sentuhan yang ia lakukan di babak kedua.

“Dengan pemain full-backs kami saat ini di sisi sayap, kami mempunyai energi yang luar biasa. Pemain sayap kami bisa bermain lebih kedalam, melepaskan umpan dan mencetak gol dari sisi tengah lapangan. Hal ini juga membuat kami memiliki lebih banyak pemain di lini tengah. Sesuatu yang saya sukai karena jumlah pemain di tengah lapangan sangat menentukan pola permainan kami,” ujar Pep.

Memang Liverpool bermain dengan 10 orang, namun jelas Liverpool merespon kekurangan pemain mereka dengan permainan yang sangat buruk. Kemenangan 4-0 menghadapi Arsenal 2 pekan lalu hilang tak berbekas. Sebuah keputusan yang salah juga dilakukan oleh Klopp dengan menempatkan Alexandre Arnold guna menghadapi gempuran De Bruyne dan Mendy di sisi sayap. Mungkin James Milner dan Joe Gomez bisa menjadi alternatif lain yang lebih baik. Liverpool memang memiliki pertahanan yang tidak terlalu baik, namun jelas apa yang disuguhkan oleh anak asuh Pep Guardiola menunjukkan bagaimana mengerikannya City saat bermain dalam kondisi terbaik mereka.

Jika bisa terus mempertahankan pola permainan tersebut, bukan tidak mungkin tim Manchester City akan menjadi kekuatan baru Eropa yang dulu sempat ditakuti seantero Eropa layaknya Barcelona serta Bayern Muenchen arahan Pep Guardiola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*